
Dapil Sumbar IV (Bukittinggi, Agam, Padangpariaman, Kota Pariaman)
Centang NO :
2. Ruslinas Dt. Pado Saih
Mohon doa restu dan dukungan dari segenap warga Batu Palano baik yang dikampung maupun yang dirantau.
Minggu, 21 Desember 2008
- PUTRA BATU PALANO CALON DARI PPP - PEMILIHAN DAERAH AGAM DAN PARIAMAN (DPRD Tk 1)
Minggu, 14 Desember 2008
Minggu, 07 Desember 2008
DASAR POKOK ADAT MINANGKABAU

1. Ciri dan Adat Orang Minang
1. Aman dan Damai
Bila dipelajari dengan seksama pepatah-pepatah adat Minang, serta fakta-fakta yang hidup dalam masyarakat seperti masalah perkawinan,sistem kekerabatan, kedudukan tanah pusaka tinggi, peranan mamak dan penghulu,kiranya kita dapat membaca konsep-konsep hidup dan kehidupan yang ada dalam pikiran nenek-moyang kita.
Dari konsep-konsep hidup dan kehidupan itu,kita juga dapat memastikan tujuan hidup yang ingin dicapai oleh nenek-moyang kita.
Tujuan hidup itu adalah:
BUMI SANANG PADI MANJADI
TARANAK BAKAMBANG BIAK
Rumusan menurut ada Minang ini, agaknya sama dengan masyarakat yang aman damai makmur ceria dan berkah,seperti diidamkan oleh ajaran Islam yaitu”Baldatun Taiyibatun wa Robbun Gafuur”. Suatu masyarakat yang aman damai dan selalu dalam penmgampunan Tuhan.
Dengan adanya kerukunan dan kedamaian dalam lingkungan kekerabatan, barulah mungkin diupayakan kehidupan yang lebih makmur. Dengan bahasa kekinian dapat dikatakan bila telah tercapai stabilitas politik, barulah kita mungkin melaksanakan pembangunan ekonomi.
2. Masyarakat nan “Sakato”
Kalau tujuan akan dicapai sudah jelas, yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah , maka kini tinggal bagaimana cara yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Kondisi yang bagaimana yang harus diciptakan.
Menurut ketentuan adat Minang, tujuan itu akan dapat dicapai bila dapat disiapkan prasarana dan sarana yang tepat.
Yang dimaksud dengan prasarana disini adalah manusia-manusia pendukung adat Minang, yang mempunyai sifat dan watak seperti diuraikan diatas.
Manusia dengan kualitas seperti itulah yang diyakini adat Minang yang akan dapat membentuk suatu masyarakat yang akan diandalkan sebagai sarana (wahana) yang akan membawa kepada tujuan yang diidam-idamkan yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah. Suatu Baldatun Taiyibatun Wa Robbun Gafuur.
Corak masyarakat idaman menurut kacamata adat Minang adalah masyarakat nan “sakato”.
3. Unsur-unsur Masyarakat nan sakato
Terdapat 4 unsur yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat untuk dapat membentuk masyarakat nan sakato. Sakato artinya sekata-sependapat-semufakat.
Keempat unsur itu adalah:
a. Saiyo Sakato
Menghadapi suatu masalah atau pekerjaan, akan selalu terdapat perbedaan pandangan dan pendirian antar orang satu dengan yang lain sesuai dengan yang lain
dengan pepatah “kapalo samo hitam, pikiran ba lain-lain”.
Perbedaan pendapat semacam ini adalah sangat lumrah dan sangat demokratis. Namun kalau dibiarkan berlanjut, maka akan berakibat masalah itu takkan terselasaikan.
Pekerjaan itu akan terkatung-katung. Karena itu harus selalu dicari jalan keluar. Jalan keluar yang ditunjukkan adat Minang adalah melakukan musyawarah untuk mufakat, bukan musyawarah untuk melanjutkan pertengkaran. Keputusan boleh bulat (aklamasi) tapi boleh juga gepeng atau picak (melalui voting).
Adat Minang tidak mengenal istilah “Sepakat untuk tidak se-Mufakat”. Bagaimana proses keputusan diambil, namun setelah ada kata mufakat maka keputusan itu harus dilaksanakan oleh semua pihak. Keluar kita tetap utuh dan tetap satu.
Setiap individu Minang disarankan untuk selalu menjaga hubungan dengan lingkungannya. Adat Minang tidak terlalu memuja kemandirian (privacy) menurut ajaran individualisme barat. Adat Minang mengajarkan supaya membiasakan berembuk dengan lingkungan kendatipun menyangkut masalah pribadi.
Dengan demikian adat Minang mendorong orang Minang lebih mengutamakan “kebersamaan” kendatipun menyangkut urusan pribadi.
Kendatipun seorang individu Minang menduduki posisi sebagai penguasa seperti dalam kedudukan mamak-rumah atau pun Penghulu Andiko maka keputusan tidak mungkin juga diambil sendiri. Karena itu sikap otoriter tidak pernah disukai rang-orang Minang.
Adat Minang sangat mendambakan persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Minang. Orang Minang yakin tanpa persatuan dan kesatuan itu akan menjauhkan mereka dari tujuan masyarakat yang ingin dicapai.
Mereka memahami pula dalam hidup berkelompok dalam masyarakat akan selalu terdapat silang selisih, marah dan sengketa akan selalu terjadi. Antara sanduak dan periukpun tak pernah sunyi akan selalu ada kegaduhan. Namun demikian orang Minang mempunyai dasar filosofi yang kuat untuk mengatasinya.
Adat Minang akan selalu mencoba memelihara komunikasi dan kemungkinan berdialog. Karena dengan cara itu segala masalah akan selalu dapat dipecahkan melalui musyawarah. Orang Minang menganggap penyelesaian masalah diluar musyawarah adalah buruk.
Dalam mencapai kata sepakat kadangkala bukanlah hal yang mudah. Karena itu memerlukan kesabaran, ketabahan dan kadangkala terpaksa menguras tenaga. Namun demikian musyawarah tetap diupayakan.
b. Sahino Samalu
Kehidupan kelompok sesuku sangat erat. Hubungan individu sesama anggota kelompok kaum sangat dekat. Mereka bagaikan suatu kesatuan yang tunggal-bulat. Jarak antara “kau dan aku” menjadi hampir tidak ada. Istilah “awak” menggambarkan kedekatan ini. Kalau urusan yang rumit diselesaikan dengan cara “awak samo awak”, semuanya akan menjadi mudah.
Kedekatan hubungan dalam kelompok suku ini, menjadikan harga diri individu, melebur menjadi satu menjadi harga diri kelompok suku.
Kalau seseorang anggota suku diremehkan dalam pergaulan, seluruh anggota suku merasa tersinggung. Begitu juga bila suatu suku dipermalukan maka seluruh anggota suku itu akan serentak membela nama baik sukunya.
c. Anggo Tanggo
Unsur ketiga yang dapat membentuk masyarakat nan sakato, adalah dapat diciptakannya pergaulan yang tertib serta disiplin dalam masyarakat. Hal ini berarti bahwa setiap anggota masyarakat dituntut untuk mematuhi aturan dan undang-undang, serta mengindahkan pedoman dan petunjuk yang diberikan penguasa adat.
Dalam pergaulan hidup akan selalu ada kesalahan dan kekhilafan. Kesalahan dan kekhilafan itu harus diselesaikan sesuai aturan. Dengan demikian ketertiban dan ketentraman akan selalu terjaga.
d. Sapikua Sajinjiang
Dalam masyarakat yang komunal, semua tugas menjadi tanggungjawab bersama. Sifat gotong royong menjadi keharusan. Saling membantu dan menunjang merupakan kewajiban. Yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Kehidupan antara anggota kaum, bagaikan aur dengan tebing, saling bantu membantu, saling dukung mendukung.
Dengan masyarakat nan sakato ini diharapkan akan dapat dicapai tujuan hidup dan kehidupan orang Minang sesuai konsep yang diciptakan nenek moyang orang Minang.
BUMI SANANG PADI MANJADI
PADI MASAK JAGUNG MAUPIA
ANAK BUAH SANANG SANTOSA
TARANAK BAKAMBANG BIAK
BAPAK KAYO MANDE BATUAH
MAMAK DISAMBAH URANG PULO
2. Nilai-nilai Dasar Adat Minangkabau
Sebuah nilai adalah sebuah konsepsi , eksplisit atau implisit yang menjadi milik khusus seorang atau ciri khusus suatu kesatuan sosial (masyarakat) menyangkut sesuatu yang diingini bersama (karena berharga) yang mempengaruhi pemilihan sebagai cara, alat dan tujuan sebuah tindakan.Nilai nilai dasar yang universal adalah masalah hidup yang menentukan orientasi nilai budaya suatu masyarakat, yang terdiri dari hakekat hidup, hakekat kerja, hakekat kehidupan manusia dalam ruang waktu, hakekat hubungan manusia dengan alam, dan hakekat hubungan manusia dengan manusia.1. Pandangan Terhadap Hidup
Tujuan hidup bagi orang Minangkabau adalah untuk berbuat jasa. Kata pusaka orang Minangkabau mengatakan bahwa “hiduik bajaso, mati bapusako”. Jadi orang Minangkabau memberikan arti dan harga yang tinggi terhadap hidup. Untuk analogi terhadap alam, maka pribahasa yang dikemukakan adalah :
Gajah mati maninggakan gadieng
Harimau mati maninggakan balang
Manusia mati maninggakan namo
Dengan pengertian, bahwa orang Minangkabau itu hidupnya jangan seperti hidup hewan yang tidak memikirkan generasi selanjutnya, dengan segala yang akan ditinggalkan setelah mati. Karena itu orang Minangkabau bekerja keras untuk dapat meninggalkan, mempusakakan sesuatu bagi anak kemenakan dan masyarakatnya. Mempusakakan bukan maksudnya hanya dibidang materi saja, tetapi juga nilai-nilai adatnya. Oleh karena itu semasa hidup bukan hanya kuat mencari materi tetapi juga kuat menunjuk mengajari anak kemenakan sesuai dengan norma-norma adat yang berlaku. Ungkapan adat juga mengatakan “Pulai batingkek naiek maninggakan rueh jo buku, manusia batingkek turun maninggakan namo jo pusako”.
Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan, sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya ataupun keluarganya. Banyaknya seremonial adat seperti perkawinan dan lain-lain membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan. Orang Minangkabau
Nilai hidup yang baik dan tinggi telah menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi, dinamis dan kreatif.
2. Pandangan Terhadap Kerja
Sejalan dengan makna hidup bagi orang Minangkabau, yaitu berjasa kepada kerabat dan masyarakatnya, kerja merupakan kegiatan yang sangat dihargai. Kerja merupakan keharusan. Kerjalah yang dapat membuat orang sanggup meninggalkan pusaka bagi anak kemenakannya. Dengan hasil kerja dapat dihindarkan “Hilang rano dek panyakik, hilang bangso indak barameh”(hilang warna karena penyakit, hilsng bangsa karena tidak beremas). Artinya harga diri seseorang akan hilang karena miskin, oleh sebab itu bekerja keras salah satu cara untuk menghindarkannya.
Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya atau keluarganya. Banyaknya seremonial adat itu seperti perkawinan membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan. Orang Minangkabau disuruh untuk bekerja keras, sebagaimana yang diungkapkan juga oleh fatwa adat sbb:
Kayu hutan bukan andaleh
Kayu hutan bukan andalas
Elok dibuek ka lamari
Elok dibuat untuk lemari
Tahan hujan barani bapaneh
Tahan hujan berani berpanas
Baitu urang mancari rasaki
Begitu orang mencari rezeki
Dari etos kerja ini, anak-anak muda yang punya tanggungjawab di kampung disuruh merantau. Mereka pergi merantau untuk mencari apa-apa yang mungkin dapat disumbangkan kepada kerabat dikampung, baik materi maupun ilmu. Misi budaya ini telah menyebabkan orang Minangkabau terkenal dirantau sebagai makhluk ekonomi ulet.
Etos kerja keras yang sudah merupakan nilai dasar bagi orang Minangkabau ditingkatkan lagi oleh pandangan ajaran Islam yang mengatakan orang harus bekerja keras seakan-akan dia hidup untuk selama-lamanya, dia harus beramal terus seakan-akan dia akan mati besok.
3. Pandangan Terhadap Waktu
Bagi orang Minangkabau waktu berharga merupakan pandangan hidup orang Minangkabau. Orang Minangkabau harus memikirkan masa depannya dan apa yang akan ditinggalkannya sesudah mati. Mereka dinasehatkan untuk selalu menggunakan waktu untuk maksud yang bermakna, sebagaimana dikatakan “Duduak marauik ranjau, tagak maninjau jarah”.
Dimensi waktu, masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang merupakan ruang waktu yang harus menjadi perhatian bagi orang Minangkabau. Maliek contoh ka nan sudah. Bila masa lalu tidak menggembirakan dia akan berusaha untuk memperbaikinya. Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak merupakan manifestasi untuk mengisi waktu dengan sebaik-baiknya pada masa sekarang. Membangkit batang terandam merupakan refleksi dari masa lalu sebagai pedoman untuk berbuat pada masa sekarang. Sedangkan mengingat masa depan adat berfatwa “bakulimek sabalun habih, sadiokan payuang sabalun hujan”.
4. Hakekat Pandangan Terhadap Alam
Alam Minangkabau yang indah, bergunung-gunung, berlembah, berlaut dan berdanau, kaya dengan flora dan fauna telah memberi inspirasi kepada masyarakatnya. Mamangan, pepatah, petitih, ungkapan-ungkapan adatnya tidak terlepas daripada alam.
Alam mempunyai kedudukan dan pengaruh penting dalam adat Minangkabau, ternyata dari fatwa adat sendiri yang menyatakan bahwa alam hendaklah dijadikan guru.
Yang dimaksud dengan adat nan sabana adat adalah yang tidak lapuak karena hujan dan tak lekang karena panas biasanya disebut cupak usali, yaitu ketentuan-ketentuan alam atau hukum alam, atau kebenarannya yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu adat Minangkabau falsafahnya berdasarkan kepada ketentuan-ketentuan dalam alam, maka adat Minangkabau itu akan tetap ada selama alam ini ada.
5. Pandangan Terhadap Sesama
Dalam hidup bermasyarakat, orang Minangkabau menjunjung tinggi nilai egaliter atau kebersamaan. Nilai ini menyatakan mereka dengan ungkapan “Duduak samo randah, tagak samo tinggi”.
Dalam kegiatan yang menyangkut kepentingan umum sifat komunal dan kolektif mereka sangat menonjol. Mereka sangat menjunjung tinggi musyawarah dan mufakat. Hasil mufakat merupakan otoritas yang tertinggi.
Kekuasaan yang tertinggi menurut orang Minangkabau bersifat abstrak, yaitu nan bana (kebenaran). Kebenaran itu harus dicari melalui musyawarah yang dibimbing oleh alur, patut dan mungkin. Penggunaan akal sehat diperlukan oleh orang Minangkabau dan sangat menilai tinggi manusia yang menggunakan akal. Nilai-nilai yang dibawa Islam mengutamakan akal bagi orang muslim, dan Islam melengkapi penggunaan akal dengan bimbingan iman. Dengan sumber nilai yang bersifat manusiawi disempurnakan dengan nilai yang diturunkan dalam wahyu, lebih menyempurnakan kehidupan bermasyarakat orang Minangkabau.
Menurut adat pandangan terhadap seorang diri pribadi terhadap yang lainnya hendaklah sama walaupun seseorang itu mempunyai fungsi dan peranan yang saling berbeda. Walaupun berbeda saling dibutuhkan dan saling membutuhkan sehingga terdapat kebersamaan. Dikatakan dalam mamangan adat “Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badie, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuek pambaok baban, nan binguang kadisuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang. Hanya fungsi dan peranan seseorang itu berbeda dengan yang lain, tetapi sebagai manusia setiap orang itu hendaklah dihargai karena semuanya saling isi mengisi. Saling menghargai agar terdapat keharmonisan dalam pergaulan, adat menggariskan “nan tuo dihormati, samo gadang baok bakawan, nan ketek disayangi”. Kedatangan agama Islam konsep pandangan terhadap sesama dipertegas lagi.
Nilai egaliter yang dijunjung tinggi oleh orang Minangkabau mendorong mereka untuk mempunyai harga diri yang tinggi. Nilai kolektif yang didasarkan pada struktur sosial matrilinial yang menekankan tanggungjawab yang luas seperti dari kaum sampai kemasyarakatan nagari, menyebabkan seseorang merasa malu kalau tidak berhasil menyumbangkan sesuatu kepada kerabat dan masyarakat nagarinya. Interaksi antara harga diri dan tuntutan sosial ini telah menyebabkan orang Minangkabau untuk selalu bersifat dinamis.
(Sumber : Adat Minangkabau - Sejarah & Budaya)
Sabtu, 06 Desember 2008
Gapoktan Batupalano Dikukuhkan
Gapoktan Batupalano Dikukuhkan
Jumat, 16 Mei 2008
meningkatkan pendapatan petani, maka lima kelompok tani di Nagari Batupalano, menyatu dalam sebuah organisasi yang diberi nama dengan Kelompok Tani (Gapoktan) Krakatau.
Sejarah Terbentuk Nagari Di Minangkabau
Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau
Undang-Undang Tariak Baleh
Manuruik warih nan bajawek nan takarang dalan tarambo samaso niniak Suri Dirajo, undang simumbang jatuah, duo jo si lamo-lamo lah diluluahkan katanah lakang, tigo jo jo sigamak-gamak lah dihanyuikan kaaia hilia.
Sampai kali dikali urek tunggang, dibucuik aka nan manjala, dibongka tunggua nan dibumi, habih bakeh sarato jajak, hilang didalam pamakaian, lipua dihati masyarakat, maso baraliah lah disitu.
Lah lanyap undang-undang nan tigo, timbua ganti tukarannyo, undang-undang tarimo tariak baleh, kok palu babaleh palu, nan tikam babaleh jo tikam, hutang ameh baia jo ameh, hutang padi baia jo padi, hutang kato baia jo kato. Dari zaman Suri Dirajo babilang maso kamudian sampai ka Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego tariak baleh taruih balaku.
Adopun Datuak Seri Maharajo nan banego-nego junjuangan Puti Indajaliah anaknyo baduo bagai balam, sikua jantan sikua batino, nan tuo Sutan Maharajo Basa nan ketek Puti Jamilan. Anak nan sadang ketek-ketek. Wafatlah Datuak Seri Maharajo Dirajo nan Banego-nego mangko tinggalah Puti Indahjaliah sarato anak duo urang. Dek hilang biaso baganti, putuih biaso bauleh, mati Datuak Seri Maharajo Dirajo nan Banego-nego diganti jo Cati Bilang pandai. Adopun Puti Indahjaliah jo Cati Bilang Pandai maadokan anak laki-laki nan banamo si Sutan Balun, jadilah antaro Sutan Maharajo Basa sarato Puti Jamilan jo adiaknyo si Sutan Balun urang saibu balain bapak.
Dek Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego undang-undang tariak baleh turun kaanak kanduangnyo nan banamo Sutan Maharajo Basa manggantikan bapaknyo, Sutan Maharajo Basa lah mangaku biang tabuak, nan mangadin gantiang putuih, sesudah Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego bapulang karahmahtullah. Sutan Maharajo Basa kokoh mamacik jo manjalankan undang-undang tariak baleh nan diwarisi baliau dari niniak sampai ka bapak. Dek lamo kalamoan nan Sutan Maharajo Basa duduak mamacik tampuak tangkai di Pariangan jo Padang Panjang, gadang lah pulo si Sutan Balun, aka panjang pikiran lanjuik, budi dalam bicaro haluih, manurun warih ayahnyo, nan banamo Cati Bilangpandai. Lorong di Cati Bilangpandai maso Datuak Seri Maharajo nan Banegonego duduak manjadi tampuak tangkai, mangaku banda sabuah, nan mahitam mamutiahkan, tampek batulak mangko bajalan, bakeh kurang minta tukuak, kok singkek minta diuleh, panambah aka jo budi, panukuak paham jo kiro-kiro dek Datuak Seri Maharajo nan Banego-nego. Kalau manuruik buni tambo, nan diri Cati Bilangpandai, asa nan dari jauah bana, dari bangso Sangsekerta. Urang subarang lauik gadang, pueh mambilang taluak rantau, aka cukuik ilimu banyak, pikiran mandaun aua, gudang ulemu jo bicaro. Lah gadang anak kanduangnyo nan banamo si Sutan Balun lalu ditunjuak diajari caro baraka baulemu sampai kapaham jo bicaro.
Dek pandai si Sutan Balun ulemu lah banyak nan dikanduang, tiliak nyato pahamnyo haluih, lah dibao duduak basidang didalam Hukum mahukum atau timbang manimbang didalam koto jo nagari. Dek lamo bakalamoan lah habih maso mudo matah umua manjalang tigo puluah antaro Sutan Maharajo Basa jo diri si Sutan Balun, dek tiliak pandang rang nagari, lah bak intan dengan podi, lah asiang kalabiahan, lain-lain kagadangan, intan cayo nan dalam, nan podi kilek nan labiah, ragu rang banyak kamamiliah.
Dek rakyat di Pariangan sarato jo Padang Panjang lah samo dianjuang tinggi, lah samo diamba gadang, nan sorang lah tampat takuik, nan sorang lah bakeh sangko, badanga kato kaduonyo. Kalau didalam dihalusi, jikok dihindang-hindang bana, tantang ditajam pamikiran,atau dibudi nan marangkak, balabiah yakin rang nagari, io kadiri si Sutan Balun. Sajak dizaman Datuak Suri Dirajo, sampai kamaso niniak Seri Maharajo nan Banegonego, urang lah batambah-tambah, koto lah batambah rami, korong kampuang lah batambah sampik, dicari tenggang jo bicaro, kok sampik patuik dipalapang, nan sasak luruih dipalaweh, alam leba dunia lah lapang, rimbo banyak nan kadirambah, tampek mambuek korong kampuang untuak kakoto jo nagari, hutang malambeh jo malamun, tingga malambang manaruko.
Tatkalo samaso itu tibo parentah dek nan kuaso, dari nan mamacik tampuak nagari, tampuak tangkai koto jo nagari, manyuruah mancari tanah nan elok, nan rancak tampek baladang, bakeh badubo jo batahun, kok bancah jadikan sawah, kok padang bakeh bakabun, Baseraklah urang nan banyaktu, dikaki gunuang Marapi, sabalah mandun jo salatan, sampai kakaki gunuang Sago, nan arah mantari kamambungo lah ditunggu didiami. Sajak mulai bataratak, sampai manjadi koto jo nagari, lah luak panduduak Pariangan sarato padang Panjang pindah katanah nan data. Sampai sakarang iko kini, nan tidak barubah-rubah banamo luak Tanah Data, dek lah kurang urang Pariangan luaknyo ka Tanah Data. Dek lamo kalamoan lah sasak pulo Tanah Data diulang pulo mamindahan, kaum nan banayak akambangan nan lah sunduik manyunduik, lah banyak anak pinaknyo, dibagi-bagi tak basibak, diagiah-agiah tak bacarai. Dicarikan pulo tampek pindahnyo, dilapeh jarah jo paninjau, caro mairik nan batali, ibarat jinjiang nan batangkai, mancari tanah nan subua, nan elok tampek baladang, bakeh badugo jo batahun sarato untuak korong kampuang kajadi koto jo nagari, Lah bajalan urang ampek kaum langkok jo alat pabakalan, sarato pakakeh kaparambah, pai malereng gunuang Marapi pai katimua dengan barat.
Dari mandaki alah malereng, sampai manurun kakakinyo, kabagian sabalah barat, alua mantari katacampuang lah banyak tampek nan elok, nan patuik ditunggui ditanami, Baiakpun lurah jo baluka, bancah barayia untuak sawah, baluka bakeh bataranak, nan lakuak kajadi tabek, alah lah tampak balako, tingga marambah ananami. Lah sampai urang ampek kaumkakaki barat gunuang Marapi situ tatumbuak pajalanan katapi lubuak jo sungai. Aia jania lubuaknyo dalan, kaateh hulu basimpang, kabaruah aia sabuah lah jadi satu ilirannyo, hilia malereng kaki bukik, babatu bakasiak banyak, babelok balingka-lingka. Lubuak banamo Lubuak Agam, mudiak hulunyo bacabang duo, sabuah banamo Sungai Janiah sabuah banamo Batang Tambuo, Nan mulai dari Lubuak Agam hilia lalu kamuaro lakek namonyo Batang Agam sampai sakarang iko kini nan tidak batuka batimbang, namo asa indak barubah, banamo Batang Agam juo. Lah salamat urang nan ampek kaum tibo diranah Lubuak Agam, datanglah kaum nan kaduo, manuruti kaum nan partamo. Lorong nan datang nan kaduo, dari luak Tanah Data, sabanyak ampek kaum pulo, sarato alat kalengkapan.
Salasai kaum nan kaduo, mangiriang kaum katigo, sabanyok ampek kaum pulo manuruik kaum nan dahulu. Panyudahi kaum nan kaampek sabanyak ampek kaum juo, samo manuju ka Lubuak Agam. Tantang parangkatan nan dahulu, iolah kaum nan partamo, masuak karanah Lubuak Agam dari Luak Tanah Data lah baseraknyo disitu, dikaki gunuang Marapi, mancari tanah hutan nan elok , bakeh babuek sawah jo ladang, tampek mandirikan korong kampuang. Disalingka Batang Tambuo, salilik aia sungai janiah, lapeh kakaki bukik nan tinggi, hampia kapinggang gunuang Marapi, bagian ka Timua jo Utaro, diuni dek angkatan nan partamo. Mako jadilah koto jo nagari Agam Biaro, Balai Gurah, sarato Lambah jo Panampuang, sampai ka Canduang jo Lasi, dari puhun lalu kaujuang. Lorong dikaum nan kaduo, mambuek koto jo nagari, sakaliliang kaki bukik nan tinggi, salingka ngarai nan dalam, ampek nagari saedaran. Iyolah Kurai jo anuhampu, Sianok, Koto gadang, urang nan ampek angkek juo, ampek koto nyo dirikan. Urang nan angkek katigo, lah malambeh jo malamun, manaruko sawah jo ladang, kapinggang gunuang Marapi, mahadok mantari katacampuang, sabalah ateh Banuhampu. Dibueklah nagari ampek pulo, iolah Sariak jo Sungai pua, Batu Tagak jo Batu Palano.
Urang angkek nan katigo, ampek juo sakali angkek, parangkatan nan datang panyudahi, sabanyak ampek kaum juo, baserak pulo nyo kasitu, iolah kakai gunuang Singgalang, mambuek nagari ampek pulo, iolah Guguak, Tabeksurojo, Balingka, Koto Pambatan. Baitu kato nan dijawek, uraian pituah guru, nan dikarang ditambo alam, didalam alam Minangkabau. Itu nan angkek pangabisan, ampekampek sakali angkek, banyaknyo ampek kali angkek, jadi katonyo anam baleh, urang Ampek Angkek kasamonyo, Tapi sakarang iko kini, nan lai bak rupo bak namo, hanyolah angkek nan partamo, nan lain tidak tasabuik, nan banamo Ampek Angkek, iyolah Agam Biaro, Balai Gurah, sarato Lambah jo Panampuangan, sampai ka Pasia Canduang jo Lasi, nan Tigo angkek lah tasisiah lah tingga sajo disajarah. Alah salasai Luhak Agam, lah dapek pulo tampek nan elok, dikaki gunuang Sago, bagian timua jo utaro, sampai kalereng Gunuang Bongsu, salilik Batang Lampasi, Salingka Batang Sinama, saedaran Batang Agam, tanah data ranahnyo laweh, banyak bancah kajadi sawah, utang malambang manaruko, tingga dek urang kamangakok. Pihak dininiak maso itu nan mamacik tampuak maso itu, disiapkan kaum nan kapindah, dibagi kaum nan banyak, nan lah kambang balabihan, lah sajuik sawah jo ladang, kaum banyak sawah lah sudah, tak dapek manukuak lai, itulah urang nan dibagi, diagiah-agiah tak bacarai. Sampai sakarang iko kini, itu nan disabuik urang, banamo panjang bakaratan, atau laweh basibiran. Rantangan banyak nan kapindah, dari Luhak Tanah Data kalereng utaro Gunuang sago. Adolah limo puluah kaum, cukuik jo alat pabakanyo, langkok jo tukang jo nan pandai, sarato jo dukun pandai ubek, samo barangkek kasamonyo, manuju lereng Gunuang Sago, manurun antaro Gunuang Marapi jo Gunuang Sago, batamu lurah dituruni, sampai katapi Batang Agam, Disubarang Batang Agam hari patang malampun tibo, samo barantilah disitu, urang nan limo puluah kaum. Mamun barisuak pagi hari, saat malangkah nan lah tibo, maso bajalan nan lah datang, bakumpualah urang nan limo puluah kaum, nak salangkahnyo bajalan, nak sabondong samo lalu, nak sasentak samo suruik, lah himpun urang nan banyak tu, sampai dihetong banyak kaum, hilanglah urang limo kaum. Kato satangah ahli adat, urang nan hilang duo kaum, satu Datuak Mureka Panjang Jangguik, kaduo Datuak Mureka Putia Gigi.
Nan Datuak Mureka Panjang Jangguik sarato rombongan jo kaumnyo tapasah ka Kampa kiri, nan Datuak Mureka Putiah Gigi tapasah ka Kampa kanan, Adopun dek urang nan bapandapek, hilang limo buah kaum, namo nan indak tatunjuakan, gala nan indak takatokan. Hanyo pandapekan balimo, limo koto dibueknyo, kasinan kaum tu bajalannyo, iyo ka Kuok jo Bangkinang, ka Salo jo Aia Tirih, limo jo ka Rumbio, tapi nan namo jo gala indak tatunjuak takatokan. Sabab karano nan bak kian, luak lah urang nan limo puluah kaum, sabanyak limo atau duo kaum, bacarai ditangah Padang Siantah, hilang nan balun tantu rimbo, kok hanyuik nan balun tantu sungai, lah lamo mangko katahuan, lah sudah nagari kasamonyo, lah sampai tampuah manampuah, lah samo jalang manjalang, situlah baru mako tahu. Itulah asa jo mulonyo, disabuik luak Limo Puluah sabab lah hilang sabagian, dalam nan limo puluah kaum. Sampai sakarang iko kini, tidaklah lipua dek hujan, nan tidak lakang dek paneh, manjadi namo nan usali, banamo luak nan tigo. Satu luak Tanah Data, luak (kurang) urang Pariangan Padang Panjang, pindah katanah nan data. Kaduo luak Lubuak Agam, luak (kurang) urang Pariangan Padang Panjang jo urang Tanah Data, pindahnyo ampek kali angkek karanah Lubuak Agam. Nan Bongsu luak Limopuluah, luak (kurang) urang Pariangan Padang Panjang, pindah kakaki Gunuang Sago sabanyak limo puluah kaum. Baitulah warih nan dijawek, dari niniak nan dahulu nan takarang ditarambo. Dimaso Sutan Maharajo Basa sarato jo Sutan Balun, luak nan tigo alah badiri, tariak baleh alah balaku. Hanyo lainnyo dari kini, iyolah warih katurunan, tidak pusako dari mamak, bukan babanso dari ibu, hanyo pusako dari bapak kok banso baitu pulo.
Catatan:
Tambo dan silsilah adat Minangkabau ini ditulis ulang menurut aslinya dari buku karangan, B. Datuak Nagari Basa. Terbitan CV. Eleonora, Payakumbuh
Diambil dari : http://minangmedia.com/index.php?module=subjects&func=printpage&pageid=1&scope=all
Menteri Koperasi dan UKM Resmikan Pasar Amur
Menteri Koperasi dan UKM Resmikan Pasar Amur
PADANG - Pasar Amur di Banto Teleng, Batu Palano, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang dibangun sejak Maret 2000 lalu, Minggu (11/8), diresmikan oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Drs Alimarwan Hanan, seusai menghadiri acara peringatan puncak satu abad Bung Hatta di Istana Bung Hatta, Bukittinggi.
Pasar seluas 4,5 hektare dengan biaya pembangunan senilai Rp 16 miliar ini dilengkapi dengan prasarana; 1.084 petak toko berukuran 1,5x2,5 meter dan 3x2,5 meter, lapangan parkir, beberapa petak ruko, pos keamanan dan terminal angkutan kota yang ditata artistik.
Pasar Amur yang terletak di Jalan Raya Bukittinggi-Padang merupakan pasar terbesar yang pernah dikelola dan dibuat oleh koperasi di Indonesia. Pasar tersebut dibuat oleh koperasi Amur yang bertempat di Agam berdasarkan kesepakatan 1.084 anggotanya. (srn)
